Mencari Data di Blog Ini :

Friday, August 26, 2011

Hari Kebangkitan (4 of 4)

Bukti kekuasaan Allah untuk membangkitkan yang sudah mati dan hancur juga telah disaksikan sendiri oleh Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim adalah pemimpin ajaran tauhid. Beliau membawa ajaran hanif. Beliau adalah guru bagi pengikut ajaran akidah. Beliaulah khalîlur Rahmân (kekasih Allah).

Dalam bukunya, ‘Aidh al-Qarni menceritakan kisah Nabi Ibrahim tersebut. Suatu ketika Nabi Ibrahim as. berjalan menyusuri tepian pantai. Beliau melihat bangkai hewan terseret ombak ke tepian. Saat itu ada binatang buas datang menghampiri bangkai dan memakannya. Burung-burung pemakan bangkai pun turut meramaikan pesta itu. Nabi Ibrahim menghentikan langkah Dalam hati beliau bertanya, “Bagaimana Allah mengembalikan kehidupan bangkai yang telah tercabik-cabik dan terkunyah dalam perut binatang buas serta burung-burung itu? Bagaimana di hari Kiamat nanti Allah menghidupkan bangkai itu?”

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرٰهِيْمُ رَبِّ أَرِنِيْ كَيْفَ تُحْـِي ٱلْمَوْتىٰ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.”
(QS al-Baqarah [2]: 260)

Nabi Ibrahim memohon kepada Tuhannya. Beliau meminta untuk diperlihatkan proses menghidupkan kematian dan bagaimana mematikan kehidupan.

Allah berfirman, “Belum yakinkah engkau?”(QS al-Baqarah [2]: 260)

Apakah engkau belum beriman hari ini? Apakah engkau tidak meyakini bahwa Allah bisa membangkitkan orang-orang dari kubur? Apakah engkau belum juga mengerti bahwa Allah akan membangkitkan manusia di hari kebangkitan?

Sesungguhya Allah Maha Mengetahui bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang beriman. Nabi Ibrahim adalah orang yang bertauhid dan menerima kebenaran.

Ibrahim menjawab, “Bahkan aku telah meyakininya. Akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). ” (QS al-Baqarah [2]: 260)

Permintaan itu adalah untuk menambah keyakinan yang sudah ada dalam hati beliau.

Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (QS al-Baqarah [2]: 260)

Ambillah empat ekor burung, lalu potonglah burung-burung itu dan campurkan masing-masing pada yang lain (dicampur aduk).
Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu.
(QS al-Baqarah [2]: 260)

Nabi Ibrahim mengambil seluruh bagian yang terpotong itu dan membagikannya pada empat bukit. Allah berfirman:

Kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. (QS al-Baqarah [2]: 260)

Selesai meletakkan bagian-bagian burung itu di atas bukit, Nabi Ibrahim turun dengan membawa kepala-kepala burung yang terpotong. Beliau memanggil burung-burung itu dari bawah,

“Kemarilah wahai burung-burung dengan ijin Allah! Kemarilah!” panggil Nabi Ibrahim.

Kemudian Allah membangkitkan ruh keempat burung itu kembali. Semua bagian yang telah dipisah-pisah di empat bukit itu kembali pada bagiannya masing-masing hingga terbentuk seperti semula. Setiap burung kembali pada kepalanya masing-masing. Tidak ada yang tertukar dengan kepala burung yang lain. Setelah sempurna bentuk burung-burung itu, mereka terbang di udara seperti sedia kala. Kemudian Allah berfirman:

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS al-Baqarah [2]: 260)

Nabi Ibrahim pun berkata,

“Aku tahu bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Marilah kita hiasi diri untuk menyambut hari perkumpulan besar di hadapan Allah. Mari kita kenakan pakaian takwa, yang selainnya tidaklah memberi arti sedikit pun di hadapan-Nya. Siapkanlah diri kita dengan bekal kebaikan serta amal shaleh yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah.

Siapkanlah diri kita untuk menyambut kebangkitan berikutnya. Itulah hari dimana Allah menggulung langit, lalu memegang dalam genggaman-Nya. Saat itu Allah berfirman,

“Akulah Penguasa. Di mana orang-orang yang sombong dan durhaka?”
Kemudian Allah melipat bumi dengan tangan-Nya seraya berfirman,
“Akulah Penguasa. Di mana orang-orang sombong lagi durhaka?”

Demikianlah yang terdapat dalam hadits riwayat Muslim.

Al-Qur’an menghendaki agar keyakinan akan adanya hari akhir mengantar kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif dalam kehidupan, walaupun aktivitas itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunia.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa QS al-Mâ‘ûn [107] turun berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahal, yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir. QS al-Mâ‘ûn [107] dimulai dengan satu pertanyaan:
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ
Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-dîn?(QS al-Mâ‘ûn [107]: 1)

Kata ad-dîn dalam surah ini, diartikan dengan agama; tetapi ad-dîn dapat juga berarti pembalasan, yang berasal dari derivasi kata mudayanah. Dengan demikian yukadzdzibu biddîn dapat pula berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa apabila Al-Qur’an menggandengkan kata ad-dîn dengan yukadzdzibu, maka konteksnya adalah pengingkaran terhadap hari Kiamat, sebagaimana firman Allah:
كَلاَّ بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِٱلدِّيْنِ
Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
(QS al-Infithâr [82]: 9)
مَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِٱلدِّيْنِ
Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? (QS at-Tîn [95]: 7)

Kemudian, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari pembalasan. Bukankah yang percaya, meyakini bahwa jika bantuan yang diberikan tidak menghasilkan sesuatu di dunia, pastilah ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat? Bukankah yang percaya hari kebangkitan meyakini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?

Ad-dîn menuntut adanya kepercayaan kepada yang gaib. Kata gaib di sini, bukan sekadar kepercayaan kepada Allah atau malaikat, tetapi berkaitan dengan banyak hal, termasuk janji-janji Allah melipatgandakan anugerah-Nya kepada setiap orang yang memberi bantuan. Kepercayaan ini mengantar kita meyakini janji Ilahi itu, melebih keyakinan kita menyangkut segala sesuatu yang didasari oleh perhitungan akal semata.

Dengan pertanyaan tersebut, ayat pertama surah QS al-Mâ‘ûn [107] ini mengajak kita untuk menyadari salah satu bukti utama kesadaran beragama atau kesadaran berkeyakinan tentang hari akhir. Tanpa itu, keberagamaan kita dinilai sangat lemah, bahkan nihil.

Semoga Allah menyelamatkan kita pada hari kebangkitan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang berwajah putih bercahaya. Semoga Allah agar menghindarkan kita dari golongan orang-orang yang dipermalukan dan orang-orang yang merugi lagi sesal, amin. Mari kita renungkan juga nasihat indah Ibnu Hazm berikut ini:

Ketika bintang dikumpulkan, amal diperlihatkan
Ketika surga didekatkan dan neraka dinyalakan
Ketika matahari digulung dan bintang dihancurkan
Ketika putaran jagad raya telah dihentikan
Ketika gunung bertabrakan, bumi dijungkirbalikkan
Ketika Pemilik ‘Arsy telah meluluhlantakkan
Ketika itu hanya ada dua tempat kembalian
Surga bergelimang kenikmatan
Atau neraka penuh siksa yang membinasakan

Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah:
إِلـٰهِيْ أَنْتَ الْبَاعِثُ لِلْأَرْزَاقِ مِنْ فَيْضِ رِزْقِكَ الْبَاعِثُ لِلرُّسُلِ ِبمَحْضِ كَرَمِكَ وَأَنْتَ الْبَاعِثُ مِنَ الْقُبُوْرِ فَيَقُوْمُ عَدْلُكَ وَيَفِيْضُ نِعْمَتُكَ فَانْفُخْ يَارَبِّ فىِ هَيْكَلِي رُوْحَ الْعَمَلِ بِكِتَابِكَ حَتَّى تَنْبَعِثَ قُوَايَ قَائِمَةً بِالْخِدْمَةِ مُنَفِّدَةً لِكُلِّ مَا أَمَرْتَ بِهِ

Ya Allah, Engkaulah yang menggerakkan rejeki dari limpahan rejeki-Mu, Engkaulah yang mengutus rasul atas karunia-Mu, Engkaulah yang membangkitkan yang mati dari kubur sehingga tegak keadilan-Mu dan tercurah rahmat-Mu. Ya Allah, ya Tuhan hamba, tiupkanlah ke dalam tubuh hamba jiwa beramal sesuai tuntunan kitab-Mu, agar bangkit kekuatan hamba untuk mengabdi menunaikan semua perintah-Mu, amin.
Daftar Pustaka:
  • ‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an (‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua: Januari 2006
  • Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta (Thawqul Hamâmah) – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V: Maret 2007
  • M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII: Jumadil Awal 1427 H/September 2006
  • M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX: Muharram 1428H/ Februari 2007

Tulisan ini lanjutan dari : Hari Kebangkitan (3 of 4)
#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#

0 comments:

Post a Comment